Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Catatan Seorang Petani untuk Pisang Berbuah 2 Kali

Pantang pisang berbuah 2x

Setelah saya perlihatkan lima gambar dari berita yang banyak bersedar di pesbuk tentang perlakuan agar pisang berbuah dua kali, yang sumber awalnya dari SINI. Berikut tanggapan salah satu ketua kelompoktani yang saya sempat temui. Beliau sudah puluhan tahun malang melintang di dunia perpisangan, hehehe,,,,

Selasa, 29 Desember 2015

Belum Punya Keturunan? Anda Butuh Pisang


lahir tanpa ayah

Untuk anda yang sudah cukup lama menikah namun belum dikaruniai keturunan, tak perlu risau. Anda boleh mencoba ritual ini. Yah, tapi itu juga jika anda percaya. Ini salah satu kepercayaan etnis Bugis. Ilmu ini saya dapat dari seorang tetua kampung di sebuah Desa. Pisang, yah pisang. Untuk memiliki keturunan, anda butuh pohon pisang. Lebih tepatnya, pohon pisang yang telah tumbuh anakan. Bukan sesuatu yang sulit, karena hampir di semua wilayah Indonesia terdapat pohon pisang.

Rabu, 26 Februari 2014

Menggaungkan Agrowisata



1391054693511196251
Sawah Sengkedan di Tana Toraja

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Demikian penggalan lagu milik band legendaris Koes Ploes untuk menggambarkan kesuburan tanah air kita. Indonesia adalah negara agraris. Sebegaian besar Rakyat Indonesia adalah petani. Petani dalam artian yang luas tentunya (tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunanan, perikanan dan kehutanan). Lahan-lahan pertanian terhampar ke seantero negeri. Potensi income dari pertanian itu selain dari produksi juga bisa dihasilkan dari kedatangan wisatawan. Yah agrowisata, atau kegiatan pariwisata yang mengandalkan pada potensi pertanian. 

Selasa, 27 Agustus 2013

Interupsi untuk Admin pnpm.com, Merujuklah ke Sumber Asli



1377643921140825621
http://green-pnpm.com/

Sepekan yang lalu, seorang petani di desa tempat saya bertugas kini, menyampaikan ihwal ketertarikannya akan biogas. Sudah cukup lama saya tak merakit biogas, untuk merefresh sekalian nambah ilmu, saya menjelajah ke dumay. Akhirnya tiba di web milik program nasional pemberdayaan masyarakat (pnpm) kanal green dan menemukan artikel berjudul Proses Pembuatan Biogas Ramah Lingkungan dari Eceng Gondok. Membaca, mengamati rentetan gambar, koq terasa tak asing. Diujung artikel, sumbernya tertulis kaskus. Lho koq???

Jumat, 26 Juli 2013

Tentang Kado Penikahan



1374874945397738137
18 januari 2012

18 Januari 2012, di Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Yusuf, Makassar, saya mengucap qabul atas seorang gadis bernama Reni Purnama. Ketika resepsi, kawan, handai taulan datang memberi do’a restu dan tak lupa kado kebahagiaan. Terlalu banyak kado, mulai dari uang cash, perlengkapan rumah tangga, aksesoris, sampai buku dan kitab suci. Diantara itu, ada juga yang mengirim kado melalui tulisan. Saya mencatat ada lima tulisan kawan kompasianer yang dikhususkan untuk pernikahan kami. Dominan fiksi, kelima tulisan itu...

Rabu, 24 Juli 2013

Puasa, Kendalikan Nafsu Kendalikan Tikus


13747108391207517069
Sawah apa danau???




Salah satu hikmah puasa adalah untuk mengendalikan nafsu. Entah nafsu makan/minum, nafsu syahwat, nafsu..., Sedang bagi para petani di wilayah tempat tinggal saya, akumulasi nafsu itu disalurkan untuk mengendalikan populasi tikus sawah. Kenapa hanya dikendalikan? bukan dibasmi, dimusnahkan, diberantas? Karena petani percaya bahwa meski dapat merusak pertanaman padi, tapi tikus tetap mempunyai manfaat dalam ekosistem. Bukankah semua ciptaan Tuhan itu bermanfaat. Jadi cukup dikendalikan agar populasinya tidak terlalu besar. Berbeda dengan tikus kantor, kalau yang itu mah harus diberantas, hehehe...

Selasa, 02 Juli 2013

My Name Is Dafinah



Aqiqah

Coba tanya kepada suami-suami, kapankah saat paling bahagia sejak bergabung dalam lembaga pernikahan? jawabnya pasti tidak jauh-jauh “Pas malam pertama”, eh... itu saat paling mendebarkan yah, hahahaha... Menurut saya, salah satunya adalah ketika menemui fakta bahwa tiga bulan pembalut di lemari masih tersegel dan istri malah minta mangga muda. Yah, telat, saya ulangi, ngidam, saya ulangi lagi, hamil. Wah, kami berdua segera jadi ayah, jadi ibu. Sebagai calon ayah-ibu pemula, segalanya kami persiapakan, matangkan mental, kumpulkan finansial, dan yang pasti memilihkan nama.

Rabu, 05 Desember 2012

Menyambangi Pasar "Babi" Makale


13341141051343882366
Pasar Babi, Makale (Doc.Pribadi, 2012)


Ternak babi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat Toraja. Bersama kerbau, ternak babi selalu hadir dalam setiap pesta adat seperti rambu solo’ maupun rambu tuka’. Di Tana Toraja, ternak babi dipasarkan di Pasar Sentral Makale. Sebuah pasar tradisional yang menyediakan macam ragam kebutuhan masyarakat.

Pasar babi sendiri berada pada bagian belakang pasar sentral, hanya dibatasi tembok setinggi ± 1,5 meter. Jika dilihat dari jalan, memang terhalang oleh kendaraan yang parkir. Kendaraan itu sebenarnya adalah kendaraan pengangkut babi. Babi tersebut didatangkan dari pedalaman Tana Toraja, juga daerah sekitar seperti Toraja Utara juga Luwu Raya.

Senin, 03 Desember 2012

Mina Padi, Sisi Lain Agrowisata Toraja




13406927921105983102
Sengkedan (Doc.Pribadi, 2012)


AGROWISATA. Menyebut Toraja, maka yang terbayang adalah rumah adat Tongkonan, pesta rambu solo atau tengkorak di kuburan batu. Padahal, dalam bidang agriculture, Toraja juga punya potensi yang besar nan indah. Mulai dari hutan-hutan lebat yang masih perawan, ragam buah sayuran, tanaman pangan, juga perkebunan. Jadi selain wisata budaya, juga bisa beragrowisata.

Mari kita turun ke sawah. Lahan pertanian di Toraja terbilang cukup unik, dari kondisi geografisnya yang berbukit bergunung, membuat tata letak persawahan bertingkattingkat atau terasering, yang khalayak umum kenal dengan kata sengkedan. Sangat berbeda dengan lahan sawah di Sulawesi Selatan kebanyakan yang terhampar luas.

Kamis, 25 Oktober 2012

Lebaran, Bukan dengan Ketupat tapi Burasa



13511362451862637590
Burasa

Sudah menjadi mainstream ummat Islam nusantara, lebaran baik Idul Fitri maupun Idul Adha selalu identik dengan ketupat. Makanan berbentuk kepal bersudut tujuh yang terbuat dari beras dan dibungkus daun pandan atau kelapa, selalu hadir bersama opor atau gulai. Tapi tidak demikian halnya di dataran Bugis, termasuk di kampung halaman saya Sidenreng Rappang.

Jika lebaran tiba, jangan pernah mencari ketupat, karena makanan utama ummat yang sedang merayakan Ied adalah burasa (baca burasa’). Burasa pada dasarnya hampir sama dengan ketupat, terbuat dari beras, yang berbeda ada pada kemasan, ukuran dan bentuknya. Burasa terbuat dari daun pisang. Maka tak heran setiap menjelang lebaran, bermunculanlah para penjual daun pisang. Bentuk burasa juga cukup unik, selain itu ukurannya secara umum lebih tipis dari ketupat

Jumat, 19 Oktober 2012

Jika Orang Bugis Pindah Rumah

Headline kompasiana.com
Pindah rumah. Jika kebanyak orang yang pindah rumah hanya memindahkan isi rumah, Orang Bugis tidak demikian. Tanggung, Orang Bugis bukan hanya memindahkan isi rumah, tapi memindahkan rumahnya sekalian. Lho, koq bisa? iya, bisa. Kebanyakan Orang Bugis tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu, sehingga memungkinkan untuk dipindahkan.

Ada dua cara memindahkan rumah yaitu diangkat dengan didorong. Jika jarak antara letak rumah awal dengan tempat untuk pindah, dekat, maka memindahkannnya dengan cara didorong. Sedang jika jauh, maka rumah harus diangkat. Dari jumlah tenaga yang dibutuhkan, memindahkan dengan cara didorong lebih sedikit dibanding ketika harus mengangkat.