Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

Pacarita Sikarannuang ri Lae–lae

Ilustrasi : Etta Adil




Punna nia nucini baji ri kalengku
Bajiki antu nialle passari’battangang
Rampeka Golla Nanu Te’ne,
Nakurampeko Kaluku Nanu Janna.
Mingka Niajja wattu assigappa
Bajiki antu sikio–kio, sikarannuang ri Lae–lae.
Nipakarammulami anne caritayya [1]. Seorang wanita bermuka gelap, besar ketawanya, tapi sangat periang dan lembut hatinya. Nama sebenarnya Inge, tapi adik–adik teman sekolahnya dulu yang dari berbagai daerah di Sulsel, Irsyam, Indra, Uleng, Dyah, Fitri, Affandi, Nuri, Chris, dan Rianty, memanggilnya dengan sebutan Daeng Sassang. Jika berkumpul bersama mereka, ia paling banyak ceritanya. Mungkin itu pula sebabnya ia dijuluki Bosna Pacaritayya.

Sabtu, 02 Juli 2011

Elegi Angsa*

Doc: innocentia.wordpress.com


Dengan dagu mendongak, kau tampak angkuh
anggunmu adalah kelebihanmu
putih, lembut 
aku terpesona


Dalam hening danau kau berlayar berduadua
aku cemburu
begitu indah... begitu hening
aku diam tanpa geming

Sabtu, 11 Juni 2011

Pus*

Pus,
Temani aku disini
Lihatlah ketepi jendela
Rembulan membayangi malam
Cahayanya berpendar, dan jatuh di bola matamu

Pus,
Bersamamu, aku tetap hangat
Karenamu, aku tetap mengukir senyum
Meski angin tak semilir
Meski bulan bersembunyi
Meski teman satu-satu pergi
Meski terang kembali gelap
Tetap kamu ada disisi
Selalu disisi

Selasa, 22 Maret 2011

Attumate

[Dedikasi untuk Alm. Syahrir daeng Nalla]

Ilustrasi (ittelkom)

#1
Entah kau-aku; ada yang terasa hilang
Melenyap dalam kawanan kabut di malam itu

            “Sudahlah, ammak, ritual attumate itu membutuhkan  biaya banyak. Darimana kita memperoleh uang sebanyak itu dalam sekejap? Apakah kita harus berutang? Bukankah, daeng Nalla’ku juga sudah dikuburkan? Cukuplah kita mengundang tetangga-tetangga saja datang ke rumah untuk mengaji dan mendoakannnya, insya Allah, daeng Nalla juga sudah ikhlas kok.”
Ini perdebatan yang berulang dengan mamaku dan entah sudah berapa kali aku pun tak ingat sejak kematian Almarhum kakakku tiga hari lalu. Tragis. Yah, itulah kata yang patut kugambarkan untuk kematiannya yang mendadak. Aku masih ingat. Suatu siang di terminal di Surabaya. Handphone ku berbunyi.

Bahagia Paling Sederhana

dwikisetiyawan.wordpress.com
Angin mendesah begitu tajam. Malam menjerit di bawah temaram hati yang muram. Gelap gulita. Tak Nampak lagi lalu lalang manusia penggila kerja, sebagian pulas tertidur. Malam hampir larut, pukul sepuluh lebih. Di ujung jalan, nampak lelaki setengah baya mendorong gerobaknya begitu lambat. Kilatan petir mulai mengejar-ngejar.

”Aku harus sampai di rumah sebelum hujan turun,” ujar lelaki itu. Gerobaknya terus melaju. Suara ban gerobak menderit ngilu sebab dipaksa berputar. Selepas magrib tadi, dia menjajakan sate kambing dan sate ayam. Tak habis semua, tapi biarlah. Nafasnya memburu begitu kencang, seolah berpacu dengan waktu yang makin menggertak.

”Jualanmu malam ini tak habis lagi, Darso. Ha ha ha. Bagaimana bisa kau memberi makan istri dan anakmu kalau penghasilanmu begitu-begitu saja. Ah, sudahilah. Lebih baik cari pekerjaan baru.”Suara itu terngiang begitu keras di telinga Darso, lelaki pendorong gerobak. Dia tersentak. Entah mengapa tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Malam apa ini?

Sabtu, 19 Maret 2011

Cinta dalam Bakso

Ilustrasi / inadwiana.wordpress.com
Hidup selalu soal pilihan dan sering tak memberi kita kebebasan memiliki semua yang kita harapkan. Begitu juga dengan mimpi. Berapa banyak mimpi yang tersingkir demi satu pilihan mutlak? Hidup  tak seperti judi. Yang jika kau sudah mahir bertaruh, maka peluang menangmu semakin besar. Hah!

Hidup lebih mirip dengan mata dadu. Karena begitu dilempar, maka biarkan saja udara yang menentukan angka yang akan muncul. Dan siapkanlah jantung untuk tak berdetak barang beberapa lama.

Hidup bukan tentang pertaruhan, tapi lebih pada kesiapan. Dan kesiapan inilah yang yang tak dimiliki sebagian orang.

Seperti Narmi, perempuan yang dikhianati pilihan. Waktu dan pilihan  telah membunuh semangat hidupnya satu persatu. Perlahan namun pasti.