Jumat, 19 Oktober 2012

Pantun Hidayat Nur Wahid, Kok Mirip Pantun Jusuf Kalla

ilustrasi, kompas

Pada debat calon gubernur DKI Jakarta di Hotel Gran Melia, Jakarta, Minggu (24/6/2012) lalu, terlihat ada yang beda dari calon gubernur yang diusung Partai Keadilan Sejahtera,Hidayat Nur Wahid (HNW). Ketika memberi closing statment, HNW membacakan pantun. Bunyinya begini “Ikan Sepat Ikan Gabus, Nomor Empat Lebih Bagus”.


Maksudnya cukupnya terang, nomor empat menunjukkan nomor urutpasangan cagub-cawagub HNW-Didiksesuai pengundian oleh KPUD di Hotel Sultan sebulan sebelumnya. Sedangkan lebih bagus, tentunya untuk menunjukkan mereka lebih bagus dibanding pasangan cagub-cawagub yang lain, sehingga layak dipilih pada hari pencoblosan ini.

Selasa, 09 Agustus 2011

Ada Pelangi di Shaf Akhwat

ilustrasi: http://iklanmax.com
Jika kita masuk ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah atau mengikuti kegiatan Islami seperti pengajian. Maka hal paling fundamen yang membedakan antara ikhwan dengan akhwat selain pengaturan shaf (ikhwan di depan dan akhwat di belakang) juga pakaian yang digunakan. Ikhwan menggunakan beragama style pakaian mulai dari sarungan yang sangat Indonesia sampai jubah layaknya di Timur Tengah. Selain style, motif dan warnanyapun sangat bervariatif. Sedangkan akhwat menggunakan mukenah dengan warna putih bersih, meskipun sebagaian memberi sentuhan bis warna lain untuk lebih memperindah.

Namun pemandangan itu hanya bisa dijumpai di masa lalu. Karena sekarang, akhwat tidak mau kalah dengan ikhwan dalam pemilihan warna. Akhwat tidak lagi sekedar menggunakan mukenah warna putih, tapi mulai beralih ke warna lain. Seperti merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu dan sebagainya. Layaknya warna-warna pelangi. Entah sejak kapan trend itu muncul, saya kurang tahu persis. Beberapa akhwat yang pernah saya jumpai mengutarakan argumentasi berbeda-beda. Ada yang jenuh menggunakan warna putih karena sangat konvensional, biar lebih modis, mau tampil beda, dan ada juga yang hanya ikut trend.

Minggu, 17 Juli 2011

Sekolah di Atas Danau

Headlines Kompasiana

Andai saja tak ada papan nama, saya tak akan pernah tahu kalau ini adalah sebuah sekolah. Dari konstruksi bangunannya saja jelas tidak lazim. Seperti rumah penduduk sekitar, berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Selain itu, bangunan sekolah juga menyatu dengan perumahan penduduk, tidak ada dikotomi yang jelas berupa pagar atau pembatas. Mungkin perbedaan yang sedikit mencolok, karena dinding sekolah ini dicat dengan warna putih dan coklat tua.

PNS yang Menolak Gaji 13

ilustrasi : kompas



Bagi para pegawai negeri sipil (PNS), datangnya bulan Juli adalah berkah tersendiri. Karena pada bulan ini, mereka akan menerima tambahan penghasilan berupa gaji 13. Gaji yang katanya dimaksudkan untuk mengurangi beban para orang tua dalam menyambut tahun ajaran baru di sekolah. Tapi tidak demikan dengan Nindi (nama samaran). Seorang PNS yang bekerja di instansi yang mengurusi kebersihan kota, justru menolak menerima gaji 13.

Pacarita Sikarannuang ri Lae–lae

Ilustrasi : Etta Adil




Punna nia nucini baji ri kalengku
Bajiki antu nialle passari’battangang
Rampeka Golla Nanu Te’ne,
Nakurampeko Kaluku Nanu Janna.
Mingka Niajja wattu assigappa
Bajiki antu sikio–kio, sikarannuang ri Lae–lae.
Nipakarammulami anne caritayya [1]. Seorang wanita bermuka gelap, besar ketawanya, tapi sangat periang dan lembut hatinya. Nama sebenarnya Inge, tapi adik–adik teman sekolahnya dulu yang dari berbagai daerah di Sulsel, Irsyam, Indra, Uleng, Dyah, Fitri, Affandi, Nuri, Chris, dan Rianty, memanggilnya dengan sebutan Daeng Sassang. Jika berkumpul bersama mereka, ia paling banyak ceritanya. Mungkin itu pula sebabnya ia dijuluki Bosna Pacaritayya.