Sabtu, 11 Juni 2011

Pus*

Pus,
Temani aku disini
Lihatlah ketepi jendela
Rembulan membayangi malam
Cahayanya berpendar, dan jatuh di bola matamu

Pus,
Bersamamu, aku tetap hangat
Karenamu, aku tetap mengukir senyum
Meski angin tak semilir
Meski bulan bersembunyi
Meski teman satu-satu pergi
Meski terang kembali gelap
Tetap kamu ada disisi
Selalu disisi

Kamis, 26 Mei 2011

La Tahzan, Ayam (saja) Ketawa



Hatiku senang akhirnya bisa pulang ke kampung halaman di Sidenreng Rappang (Sidrap). Bertahun-tahun di kota menimba ilmu dan pengalaman. Rumahku di Majjelling Wattang. Masih bagian dari Ibukota kabupaten, letaknya tak jauh dari kantor kelurahan. Di pinggir jalan poros yang menghubungkan Kota Palopo dengan Makassar, yang tetanggaku masih menyebutnya Ujung Pandang.
Minggu siang tak ada kerjaan, aku main ke rumah paman di Panca Rijang. Setelah buka sepatu dan memberi salam, aku masuk dan langsung ke belakang. Terlihat olehku kandang ayam berjejeran. Semuanya terisi, tak ada yang luang. Sekilas tampilan fisiknya tak beda seperti ayam kampung kebanyakan. Tapi kalau berkokok ternyata berbeda. Seperti orang yang sedang ketawa, kokoknya terputus-putus dan panjang.

Senin, 02 Mei 2011

Metode Ilmiah Memilih Pasangan

Memilih pasangan, tentu bukan sebuah persoalan yang mudah. Ada banyak variabel yang harus dipertimbangkan. Menjadi sangat manusiawi jika setiap individu pasti mengharapkan pasangan yang ideal. Ideal dengan kriteria yang dibuat sendiri. Terkadang kita menilai fisiknya oke tapi perilakunya negatif, atau penampilannya menarik tapi IQnya jongkok, dan tentunya masih banyak contoh lain. Kesemua kriteria itu sifatnya kualitatif, sehingga sangat relatif jika membandingkan antara individu yang satu dengan yang lain. Sementara kita menginginkan calon pasangan kita sempurna, dalam artian semua kriteria yang kita patok nilainya di atas standar.

Lalu bagaimana memutuskan memilih pasangan dengan mempertimbangkan semua variabel itu? Dr. Thomas L. Saaty dari Universitas Pennsylvania (1970) menawarkan sebuah metode bernama Analitical Hierarchy Process (AHP). AHP pada dasarnya adalah tools untuk pengambilan keputusan. Keputusan yang akan diambil apa saja, fleksibel, termasuk juga memilih pasangan. Pola kerja AHP yaitu memecah persoalan yang rumit ke dalam unsur-unsurnya dalam sebuah hirarki, lalu merubah variabel kualitatif menjadi kuantitatif. Karena penilaiannya kualitatif ke kekuantitatif, maka harus melewati perhitungan secara matematik. Untuk memudahkan, kita bisa menggunakan bantuan software Criterium Decision Plus.

Rabu, 27 April 2011

Bugis : Kamu itu Kasar... (Bahasa Menunjukkan Bangsa)


Seisi ruang sidang terlihat keheranan mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang presidium. Setiap peserta yang mengangkat tangan atau menginterupsi diberi kesempatan berargumen dengan berucap “kita, silahkan”. Jika ucapan itu tidak diikuti dengan gerak tangan ke arah peserta, maka sulit membedakan siapa sebenarnya yang dipersilahkan bicara.




Jadi presidium di MUNAS ISMAPETI


Itu kejadian empat tahun lalu, ketika saya dipercaya menjadi presidium sidang musyawarah nasional Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia. Peserta dengan latar multi etnis membuat komunikasi wajib dilakukan dengan Bahasa Indonesia. Sebagai orang yang menetap di daerah, meski sudah menggunakan Bahasa Indonesia, terkadang masih saja ada unsur-unsur kedaerahan yang tak sengaja terbawa.

Selasa, 22 Maret 2011

Sperma

Vulvamu memerah, hangat
Deras lendir bening menetes tanpa izin
Bilamana instingku berdusta?
Ah, kau birahi…

Desahmu menggeliat pada gelisahku
Dipan eksotis dari kayu tepis
Dan semerbak aroma khas wewangian
Yang rutin kau semprot pasca fajar

Doggy style tanpa foreplay
Godamu genit berbisik lirih
Pelan, berpacu, menggelinjang
Oooo… puncak klimaks parabola