Kamis, 26 Mei 2011

La Tahzan, Ayam (saja) Ketawa



Hatiku senang akhirnya bisa pulang ke kampung halaman di Sidenreng Rappang (Sidrap). Bertahun-tahun di kota menimba ilmu dan pengalaman. Rumahku di Majjelling Wattang. Masih bagian dari Ibukota kabupaten, letaknya tak jauh dari kantor kelurahan. Di pinggir jalan poros yang menghubungkan Kota Palopo dengan Makassar, yang tetanggaku masih menyebutnya Ujung Pandang.
Minggu siang tak ada kerjaan, aku main ke rumah paman di Panca Rijang. Setelah buka sepatu dan memberi salam, aku masuk dan langsung ke belakang. Terlihat olehku kandang ayam berjejeran. Semuanya terisi, tak ada yang luang. Sekilas tampilan fisiknya tak beda seperti ayam kampung kebanyakan. Tapi kalau berkokok ternyata berbeda. Seperti orang yang sedang ketawa, kokoknya terputus-putus dan panjang.
Tiba-tiba paman datang, aku tanya “Paman, itu ayam apa?”. Pamanku bilang, “Namanya manu’ gaga’(ayam gagak), tapi karena kokoknya mirip orang ketawa, yah orang-orang meyebutnya ayam ketawa”. “Lalu kenapa bisa ketawa?” Tanyaku lagi. Pamanku bilang “Itu karena pita suaranya terputus-putus, jadi kokoknya juga terputus-putus seperti orang ketawa”. “Coba aja pegang lehernya, kalau tak percaya” lanjut paman.
Aku lahir dan besar di Sidenreng Rappang. “Waktuku kecil, kok ayam ketawa tidak pernah kedengaran?” Tanyaku mengenang. Menurut paman, perkembangan ayam ketawa memang baru beberapa tahun belakangan. “Zaman dulu, hanya dipelihara oleh para bangsawan di kerajaan Sidenreng, juga kerajaan Rappang”. Meskipun tak ada larangan bagi rakyat kebanyakan, tapi itu sebagai penghormatan dan juga karena segan. Makanya ayam ketawa tidak terlalu berkembang.
Pamanku lalu membuka kandang, menuang air dan juga pakan. “Diberi makan apa, Paman?”. “Gabah kering” jawabnya lantang. Aku bilang “Dapatnya dari mana?”. “Tenang, sidrapkan lumbung pangan, banyak persawahan jadi gampang”. Kubilang “Di poultryshop sudah banyak yang jual pakan pabrikan, kenapa bukan itu yang diberikan?” Tanyaku kebingungan.
Pamanku sejenak terdiam “Gabah kering punya khasiat membersihkan lendir pada tenggorokan”. Dengan begitu suara ayam gagak jadi semakin berkarakter, karena semakin tinggi dan panjang. “Cara pemberiannya gimana? Pagi siang malam?” Tanyaku berulang. “Gabah itu harus direndam air terlebih dahulu selama semalam, setelah itu baru bisa diberikan” urai paman.
Selain bisa tertawa, ayam gagak juga bisa membawa hoki alias keberuntungan, tergantung warna ayam yang kita pelihara. Ah, aku jadi penasaran. “Ada beberapa klasifikasi warna ayam gagak” urai paman. Aku lebih suka yang warna bulunya hitam dan ada kombinasi merah hati. Kata Paman, itu disebut warna lappung dan dipercaya bisa menampung harta. “Soal hoki, boleh percaya boleh tidak” kata paman mengingatkan.



Pamanku juga bilang, di sini sering ada perlombaan. Biasanya di tanah lapang, sebuah tenda besar didirikan agar tidak kepanasan. Pesertanya bisa ratusan dan hadiahnnya uang jutaan. Ayam ketawa itu dijejer ke samping dan ke belakang. Tempatnya hanya berupa tiang yang terbuat dari batang, lalu di atasnya diberi palang. Susunan tiang bertingkat, agar dari depan semua kontestan kelihatan, tak ada yang terhalang.
Pamanku menjelaskan, jenis kokok ayam gagak ada dua. Yang pertama kategori slow, bunyinyamendayu-dayu lambat dan panjang. Kategori kedua, intervalnya cepat seperti orang lagi dangdutan. Perbedaan irama kokok kedua jenis ayam gagak ini menjadi kekhasan. Namun ada juga yang berirama kombinasi keduanya, yaitu slow dangdut. Nah, yang kombinasi inilah yang harganya paling mahal dan banyak diburu oleh berbagai kalangan.
Aku jadi kepingin tahu soal harga. Pamanku bilang, “Harganya cukup mahal, di atas satu juta untuk anakan yang sudah berusia beberapa bulan”. Untuk yang sudah besar, tiga sampai lima jutaan. Harganya makin melambung apabila ayam tersebut sering ikut lomba lalu menang. Nilai jualnya akan membumbung tinggi, bisa seharga mobil sedan. Biasanya peternak di Sidrap menerima pesanan dari pedagang. Konon, di luar pulau juga sudah mulai ada yang membudidayakan.
Pamanku juga menyampaikan, kalau sekarang para pencinta ayam gagak sudah bikin perkumpulan. Diantaranya Asosiasi Pencinta Ayam Gagak Indonesia (ASPAGIN), Persatuan Pencinta dan Pelestari Ayam Ketawa Indonesia (P3AKI), Persatuan Ayam Gagak Indonesia (PAGI), dan masih banyak lagi.“Kalau butuh info tambahan atau mau bergabung, yah silahkan”.
Pamanku mengharapkan, semoga pemerintah daerah terus memberi dukungan untuk pengembangan. Karena ini flasma nutfah asli Sidenreng Rappang yang harusnya jadi kebanggan. Semoga juga ada penelitian pendukung dari para ilmuan. Sebelum pamit, aku minta seekor untuk kenang-kenangan. Pamanku bilang, “Jangan, itu ayam kesayangan”. Aku jadi sedih, tapi pamanku mendekat lalu bilang. “La Tahzan, masa kalah sama ayam”. hehehe… Paman, Paman. Terima kasih, aku pulang…
[VIDEO] Lomba Ayam Ketawa di Rappang
@Sidenreng Rappang, 19052011
Teman biasa panggil ICCANG, aslinya sih IRSYAM
Wassalam…

5 komentar:

inayah mengatakan...

nice post! heheheheh, lagi trend lagi ini di' di kampung, saya juga (di Belawa) sering ada kompetisi begini.

tapi semakin ke kini semakin rancu arti sebuah ekspresi. ada yang memangis krn justru bahagia ataupun sebaliknya. heheheheh. semoga ayam tertawa krn bahagiaji, bukan krn kita mengdzoliminya... duh kayak statement vegetarian ekstrim =)

tetap berbagi!

IRSYAM SYAM mengatakan...

Yah, semoga memang ayam ketawa karena bahagia... Intensitasnya sangat sering, hampir tiap minggu ada lomba ayam gagak.
Lho, vegetarian??? hemmmmmm....
Makasih yah udah mampir.

inayah mengatakan...

Bukan, saya bukan vegetarian. Dalam Islam tdk dilarangji makan hewan kan? Hehehehe...

IRSYAM SYAM mengatakan...

Justru saya heran lihat orang Islam yang jadi vegetarian. Bukannya ada perintah untuk ber-Qurban.

inayah mengatakan...

heheheheh... mungkin banyak orang yang berpendapat kalau Vegetarian itu dari Eropa, memang Eropa yang menyebarkannya. tapi kayaknya pandangan ini berasal dari Hindu-Budha. Hindu yang menganggap hewan adalah kendaraan menuju dewa. Budha, biksunya untuk menghindari ke'binatang'an... jadi sebenarnya dari Asia. Trus diadopsi org Eropa, oleh pencinta hewan, bukan hanya karena banyak resiko makan daging hewan tapi lebih keperi'kehewanan', lbh untuk tdk menyiksa hewan tersebut heheheh. itu pandangan saya... Ini hanya pandangan bukan agama...

beritahu saya jika keliru!

Posting Komentar