Senin, 02 Mei 2011

Metode Ilmiah Memilih Pasangan

Memilih pasangan, tentu bukan sebuah persoalan yang mudah. Ada banyak variabel yang harus dipertimbangkan. Menjadi sangat manusiawi jika setiap individu pasti mengharapkan pasangan yang ideal. Ideal dengan kriteria yang dibuat sendiri. Terkadang kita menilai fisiknya oke tapi perilakunya negatif, atau penampilannya menarik tapi IQnya jongkok, dan tentunya masih banyak contoh lain. Kesemua kriteria itu sifatnya kualitatif, sehingga sangat relatif jika membandingkan antara individu yang satu dengan yang lain. Sementara kita menginginkan calon pasangan kita sempurna, dalam artian semua kriteria yang kita patok nilainya di atas standar.

Lalu bagaimana memutuskan memilih pasangan dengan mempertimbangkan semua variabel itu? Dr. Thomas L. Saaty dari Universitas Pennsylvania (1970) menawarkan sebuah metode bernama Analitical Hierarchy Process (AHP). AHP pada dasarnya adalah tools untuk pengambilan keputusan. Keputusan yang akan diambil apa saja, fleksibel, termasuk juga memilih pasangan. Pola kerja AHP yaitu memecah persoalan yang rumit ke dalam unsur-unsurnya dalam sebuah hirarki, lalu merubah variabel kualitatif menjadi kuantitatif. Karena penilaiannya kualitatif ke kekuantitatif, maka harus melewati perhitungan secara matematik. Untuk memudahkan, kita bisa menggunakan bantuan software Criterium Decision Plus.


Kita ambil contoh kasus :
Seorang pemuda yang tengah bimbang memilih gadis idamannya

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyusun struktur hirarki. Struktur hirarki ini terdiri dari tiga tingakatan, yaitu tujuan (level 1), kriteria (level 2) dan alternatif (level 3). Karena tujuannya sudah jelas untuk mencari gadis idaman, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah menentukan kriteria. Taruhlah kriteria yang diinginkan seperti yang berlaku di ajang pemilihan miss-miss-an, 3B (brain beauty, beahavior). Selanjutnya ke tingkatan hirarki paling buntut adalah alternatif. Dalam hal ini ada tiga gadis yang menjadi alternatif pilihan, gadis A, gadis B dan gadis C.

Selanjutnya, kita menyusun hirarki ini dengan menjalankan program Criterium Decision Plus. Setelah program terbuka, klik Tab MODEL/GENERATE HIRARCHY. Lalu pada gambar hirarki yang belum sempurna klik CRITERION/BLOCK/DUPLICATE BLOCK, tambahkan sesuai jumlah kriteria. Prosedur yang sama untuk menambahkan alternative. Beri nama dengan perintah klik block yang namanya akan diganti lalu tab BLOCK/EDIT NAME. Maka melahirkan hirarki seperti gambar di bawah ini.

Struktur Hirarki


Sebaiknya file disimpan terlebih dahulu dengan perintah FILE/SAVE AS dan diberi nama file. Kriteria dan alternative yang sifatnya masih kualitatif tadi, kita kuantitatifkan. Caranya dengan melakukan perbandingan berpasangan antar variabel pada level hirarkinya. Bobot angka yang digunakan yaitu antara 1 sampai 9, dengan batasan seperti berikut :

BOBOT
DEFENISI
1
Sama
3
Sedikit Lebih
5
Lebih
7
Sangat
9
Mutlak / Ekstrim
2, 4, 6, 8
Nilai Antara

# Perbandingan pada level 2 (kriteria) :

Misal si Pemuda memberi penilaian :
BRAIN sama penting/sedikit lebih penting dari BEAUTY
BRAIN sedikit lebih penting dari BEHAVIOR
BEAUTY sedikit lebih penting dari BEHAVIOR

Jika angkanya disusun dalam matriks, maka modelnya seperti ini :

Brain
Beauty
Behavior
Brain
2
3
Beauty
3
Behavior

Selanjutnya turun ke level hirarki di bawahnya, yaitu melakukan perbandingan berpasangan pada ketiga gadis berdasrkan ketiga kriteria yang berada pada level hirarki di atasnya. Misal si Pemuda memberi penilaian :

# kriteria BRAIN
GADIS A sama pintarnya/sedikit lebih pintar dari GADIS B   : 2
GADIS A sama pintarnya dengan GADIS B                             : 1
GADIS C sedikit lebih pintar dari GADIS B                               : 3

# kriteria BEAUTY
GADIS A sedikit lebih cantik dari GADIS B                               : 3
GADIS C sama cantiknya/ sedikit lebih cantik dari GADIS A  : 2
GADIS C sedikit lebih cantik dari GADIS B                               : 3

# kriteria BEHAVIOR
GADIS B sama baiknya/sedikit lebih baik dari GADIS A        : 2
GADIS A sama baiknya dengan GADIS C                                : 1
GADIS B sedikit lebih cantik dari GADIS C                               : 3

Jika semua variabel sudah dibandingkan, maka angka-angka tersebut kita masukkan ke software untuk diolah. Untuk pertama kalinya kita akan membandingkan variabel pada level kriteria, maka yang diklik adalah level di atasnya yaitu GOLD perintah BLOCK/RATE SUBCRITERIA. Melakukan penilaian dengan perintah METHODS/FULL PAIRWISE, ke tab VIEW/NUMERICAL lalu memasukkan angka pada kolom SCORE sesuai yang terdapat pada matriks perbandingan berpasangan.

Pembobotan


Perhatikan :
Kode (1) digunakan jika model perbandingannya tidak sesuai dengan matriks perbandingan berpasangan yang kita bikin, misalnya ketika BRAIN dibandingkan dengan BEAUTY, sementara kita mau membandignkan BEAUTY dengan BRAIN maka tinggal dibalik. Sementra untuk kode (2) jika angkanya tiba-tiba berubah menjadi warna merah itu berarti ada ketidakkonsistenan ketika melakukan penilaian. Maka penilaiannya harus direvisi, tentunya dengan teliti agar tidak jauh berubah dari jawaban asli. Batasan toleransi konsisten suatu matriks yaitu ≤ 0,1.

Jika semua nilai sudah masuk dan rasio konsistensinya sudah di bawah 0,1 maka klik OK. Selanjutnya kita masukkan angka perbandingan pada level alternative dengan prosedur yang sama. Setelah semua nilai perbandingan terinput, maka software akan mengolah angka-angka tersebut, melakukan perkalian matriks, iterasi, rasio konsistensi yang tentunya sangat panjang jika dilakukan secara manual. Lalu kita tinggal melihat hasil akhirnya dengan perintah RESULT/DECISION SCORE. Maka hasilnya seperti ini :

Hasil Akhir


Dari grafik hasil tersebut, AHP merekomendasikan skala prioritas kepada si pemuda untuk memilih secara berturut-turut Gadis C (0,439), Gadis A (0,349) dan Gadis B (0,213). Akhirnya saya ucapkan selamat kepada Gadis C dan selamat mencoba untuk yang masih bimbang memilih calon pasangan. Metode ini bisa dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain, pakar atau teman si gadis misalnya. Jika sampelnya dibalik, giliran gadis memilih pemuda, prosedur kerjanya tetap sama. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Hampir lupa, ada dikotomi yang jelas antara kata “memilih” dan “mencari”

@Pinrang, 03052011
Wassalam...
IRSYAM SYAM
.

1 komentar:

Mawardi A Asja mengatakan...

CD + bisa uji sensitifitas dinda? klw EC bisa.. Btw, sudah mi saya unggah di 4Shared. Masuk ki di Pengantar Penggunaan AHP (Analytical Hierarchy Process) dalam Pengambilan Keputusan, cari saja kata ExpertChoice. Sembunyi2 bela.. hehehe

Posting Komentar