Minggu, 17 Juli 2011

Pacarita Sikarannuang ri Lae–lae

Ilustrasi : Etta Adil




Punna nia nucini baji ri kalengku
Bajiki antu nialle passari’battangang
Rampeka Golla Nanu Te’ne,
Nakurampeko Kaluku Nanu Janna.
Mingka Niajja wattu assigappa
Bajiki antu sikio–kio, sikarannuang ri Lae–lae.
Nipakarammulami anne caritayya [1]. Seorang wanita bermuka gelap, besar ketawanya, tapi sangat periang dan lembut hatinya. Nama sebenarnya Inge, tapi adik–adik teman sekolahnya dulu yang dari berbagai daerah di Sulsel, Irsyam, Indra, Uleng, Dyah, Fitri, Affandi, Nuri, Chris, dan Rianty, memanggilnya dengan sebutan Daeng Sassang. Jika berkumpul bersama mereka, ia paling banyak ceritanya. Mungkin itu pula sebabnya ia dijuluki Bosna Pacaritayya.

Karena agak lamami tidak bertemu adek-adeknya dan ia tahu sekarang masukmi masa liburan semester anak kuliahan, narencanakanmi sebuah reuni di Lae–lae, sebuah pulau kecil yang biasa dilihatnya dari bibir Pantai Losari. “Bajiki kapang punna sikarannuangki ri Lae–lae. Nakukio ngasengi andikku anjo balalayya,” [2] ujarnya dalam logat Makassar yang kental kepada kakaknya, Etta Adil.

“Bajiki antu rencananu andikku, Baji tongi kapang punna nisuro ngasengi angngerang kanrejawa. Sekaligus niuji tommi apakah anjo nau’rangi ngasengji kampongna,” [3] sambut Etta Adil mengiyakan. Selain tampang, kakaknya itu dikenalnya juga sangat bijaksana. “Okemi padeng Daeng, nakuhubungi ngaseng rong hapena. Mingka niajja wattu sigappa. Baji memang tongi punna sirampe–rampeki golla na kaluku,” balasnya.

Setelah mendapat restu kakaknya, Inge mulai menelepon satu persatu adeknya, mulai dari Reni Purnama yang lebih dikenalnya dengan nama Uleng Tepu atau Daeng Cenning, si cantik penyuka Putu Cangkiri yang lagi kuliah di Bandung dan bercita-cita menjadi Guru Biologi. Ditelponnya pula Nuri Nura yang dikenalnya sangat penyayang, penyuka Kapurung dari Luwu.  “Akh, mauka’ telpon juga Dyah Restyani deh, kusukaki barongko buatanna waktuku ke rumahna,” pikirnya mengingat Daeng Sugi, panggilan akrab Dyah Restyani yang sekarang kuliah di jurusan Ekonomi UNHAS.

Lebba ngasengmi[4] ditelpon. Ingatki, jangan sampai adekmu kau suruh bawa kue, trus kau sendiri tidak bawa,” sahut kakaknya mengingatkan. “Ehh, sabbaramaki Daeng, punna nakke eroka appare Umba–umba,” [5] balasnya kepada kakaknya, Etta Adil yang sedang sibuk online di situs social blog, Kompasiana. “Eromi labbusu’ pulsaku kodong, ku smsmi dech [6], Indra F Soaleh Daeng Nai, Rianty Indah Ayuri Daeng Puji, Afandi Sido Daeng Bella, Irsyam Syam Daeng Tojeng, Fitri Ati Daeng Te’ne, dan Pong Chris,” ujarnya kepada kakaknya. “Ingatkanki supaya mereka saling menelepon, saling mengingatkan waktunya, kasi tauki mau tonga[7] itu pergi ke Lae–lae, surui Irsyam supayanabawakanga [8] Dangke,” balas kakaknya, Etta Adil, mengingatkan.

* * *
Pacarita Kapurungna Dg Ngasih (Nuri Nura)

Sedihkumi kodong ta’loko di bandara sendiriang. Lapar, tapi tidak ada selera makang. Melayang-layangmi kamase pikiranku membayangkang sebuah mangko’ besar dengan bola sagu lembut yang berenang dikuah sayur dan ikan, diselimuti rasa kacang giling sama sensasi rasa asam siagang pedis-pedisna yang segar.

Begini memang kalau anak rantau. Bagus ini sampai ma’ di Jakarta. Satu kali lagi penerbangan selama 2 jam bisami sampe’ di Makassar. Besok lusana bertemu teman-teman di Pantai Losari dan menyeberang bersama ke Pulau Lae - Lae untuk reuni.

Sambil menunggu teringatka’ kembali saat membuat kapurung bersama Tettaku. Waktu itu kuhadapi larutan air dan sagu dalam baskom. “Jangko sotta’ nah, dengarki apa yang Tetta bilang,” pesannya. Beliau menuang air mendidih sementara sendok kayu kuputar perlahan dengan gerakan melingkar.Saki’na mamo tangangku kodong, tapi lagi-lagi Tetta mengingatkan, “Tahan, barupi itu permulaan.” Tambah lama tambah beratki


Adonan sagu makin lama makin padat. “Banting sekarang!!” teriak Tetta. Adonan sagu yang kental dan padat itu kubanting berkali-kali dengan seluruh kekuatan. Warnanya yang putih perlahan berubah menjadi abu-abu lembut nan merata. “Naaah, kamman jo,” pujinya. “Dalam hidup pun kau harus begitu, sabar menunggu proses dan kuat menghadapi tantangan. Kalo tidak begitu, kapurungmu tidak bisa jadi, cita-citamu juga tidak bisa tercapai.”

Oo…! Mengkhayalka’, untung nakasih ingatja’ orang yang duduk disampingku untuk segera masuk ke pesawat. Senyum-senyumka’ membayangkan temang-temang yang menanti reuni di Lae-lae. Pastibanya’mi cerita sama makanan enak nasiapkan.

***

Pacarita Bandang/ Doko-Dokona Daeng Nai (Indra F. Soaleh)


“Hmmm….libur kuliahku dimulai besok. Apami rencanaku untuk liburan?” pikir Indra dalam perjalanan pulang dari kampusnya. Baru saja tiba di rumah, sebuah sms diterimanya.
“Haiii..marimi ikutan reuni di Pulau Lae-Lae. Beramai-ramai kita bawa oleh-oleh na?” demikian isi sms dari Dg.Sassang.


Wahhhh… Bahagiami saya mendengarnya. Inimi tujuanku liburan nanti. Tapi tidak enakmi kalau tidak bawa kue. Kucoba-coba mengingat keahlianku memasak kue.
Baiklah sekarang kuputuskanmi membuat bandang atau Doko-doko. Ingat pesan nenekku, bandang ini mudah dan murah dibuat. Ya toh?


Pergimi ka’ ke pasar waktu itu. Pasar Bantengan namanya. Kubeli tepung terigu, pisang, tak lupa juga daun pisangnya toh? Kubuatmi dengan mengingat-ingat resepnya nenekku di rumah. Kumasukkan tepung terigu, lalu masukkan juga air secukupnya agar jadimi adonan yang tidak keras dan tidak juga terlalu lembek. Setelah itu, kusiapkanmi daun pisangnya yang sudah dibersihkan.


Untuk membuat bandangnya, kuambilmi adonan tepung tadi lalu taruhmi diatas daun. Kubungkus pisang yang sudah kubelah dua tadi dengan adonan tepung. Setelah terbungkus lalu digulungmi daunpisannya sampai tertutup semua. Lipatmi kedua ujungnya, jadimi.


Sekarang itu bandang dikukus sekitar 30 menit. Setelah matang kucoba rasakan sedikit, “Hmmm…enaknya!”
Katanya nenekku lipatan bandangmu itu mencerminkan bentuk tubuhmu. Jadi kalau bentuknya panjang dan kurus, badanmu kurus juga tuh, tapi kalau gemuk berarti yang buat itu gemuk juga….hahaha. Tapi betulmi juga karena saya kalau buat selalu panjang dan kurus. Artinya? Biarmi kawanku menilai nanti kalau reuni di’?
***

Pacarita Songkolo Bagadangna Daeng Bella (Afandi Sido)


Bip…bip! SMS masuk.
Wah, dari tanta Inge. Katanya mauki mengadakan reuni SMA di Pulau Lae-lae yang sejuk. Ah, kalau begitu Songkolo’ Bagadang harus kubawa sebagai makanan pelengkap. Jadi ingatka pertemuanku dengan tunanganku, Reni, 7 tahun silam. Dia suka sekali Songkolo’ Bagadang. Katanya, “Gurih banget!”


Waktu itu November 2003. Di bandara kutunggu penerbanganku. Kukeluarkanmi sebungkus nasi dengan kemasan daun pisang. Tampak seorang wanita muda didepanku kebingungan karena tak mendapat tempat duduk. Spontan, kugesermi posisiku untuk memberikan ruang duduk untuknya. Terlalu gesit bergeser, jatuhmi bungkusan ditanganku. Kupungutki, kemudian kutiup-tiup.


“Aduh, aduh, maaf ya, mas. Jadi jatuh makanannya,” sahut wanita itu. Tersenyumka juga, lalu kukeluarkan sebungkus lagi.
“Ini Songkolo’ Bagadang,” kusodorkan kepadanya.
“Apa? Makasih ya.”
Akhirnya wanita itu mencicipinya, lalu tersenyum.
“Wah, gurih, beras ketan ya?” tanyanya.
“Iya. Asli Makassar, tempat saya.”
Itulah saat dia pertama berkenalan dengan Songkolo’ Bagadang.
“Reni”.
“Fandi.”.
“Enak. Cara bikinnya gimana?”
“Gampang. Beras ketan ditanak seperti biasa hingga kering dan tidak lembek. Barulah ditaburi kelapa goreng yang sebelumnya dicampurkan dengan kunyit. Makanya warnanya unik dengan kelapa goreng berwarna kuning. Bentuknya yang bulat itu maksudnya bersatu dalam kesederhanaan. Songkolo’ Bagadang dibikin kecil-kecil, supaya bisa dinikmati semua, porsinya juga pas. Tidak berlebih-lebihan, yang penting bahagia dan tidak lapar,” ujarku menjelaskan.


Sejak itu kurasakan simpati mendalam dari Reni yang akhirnya juga menarik hatiku. Sudahma juga berjanji akan mengajaknya bersama ke Lae-lae untuk kukenalkan dengan sa’ri battangku yang akan datang ke sana. Menyenangkanmi pastinya.


***


Pacarita Cucuru Bayao dan Bannang-bannangna Dg Te’ne (Fitri Ati)

Senangku deh barusanka dapat sms dari kanda Inge bilang mau bede’ reuni. Kebetulan rindu sekalima’ketemu semua teman lamaku yang lucu-lucu.


Astaga, keasyikanka’ menghayal, padahal moka bikin kue untuk reuni nanti. Hmmm, moka bikin kuecucuru bayao sama bannang-bannang dehbiasana mereka suka yang manis-manis. Moka buat cucuru bayao dulu. Walaupun jam masih menunjukkan pukul 4 subuh, bahan-bahannya kucari memangmi seperti kuning telur, pewarna kuning makanan, tepung terigu, kenari, gula pasir, air, vanili, jeruk nipis. Yakinka ini hari, kukalahkanki paga’de-ga’de bangun, hahaha. Untung semua bahannya adaji.


Saat menunggu cucuru bayaoku matang, kuingat nenekku almarhum. Dulu pernahka bertanya napadalam pernikahan adat Bugis - Makassar, cucuru bayao wajib ada. Nenekku bilang, cucuru bayao itu merupakan simbol pengharapan agar perjalanan rumah tangga kedua pengantin selalu manis seperti rasa kue ini. Itu tommi harapanku sama teman-teman yang akan reuni nanti, supaya pertemanan selalu manis, jadinya bawaka kue cucuru bayao. Bahkan kuikuti sarannya nenekku, saat membuat cucuru bayao, saya harus berdandan cantik, bersih dan berhati riang. Kebetulan hatiku lagi riang membayangkan reuni nanti. Dan dengan hati riang pula kusiapkan bahan untuk kueku selanjutnya,bannang-bannang.


Jam 08:30, selesaimi juga kue bannang-bannangku. Kalau liatka kue bannang-bannang, banyak sekali temanku kuingat. Kue ini banyak yang suka. Renyah seperti kerupuk dan manis. Awalnya kulihat bentuknya, kukirai susah sekali dibuat, soalnya seperti benang yang dililit asal-asalan hingga membentuk segi empat panjang atau segi tiga. Kue ini juga masuk dalam daftar wajib ada dalam pernikahan adat Makassar-Bugis. Menurut Etta Adil, kue ini merupakan symbol kesatuan dengan harapan agar pengantin saling membutuhkan, bekerja sama dan tak terpisahkan (kecuali maut memisahkan).


Saatnyami mengemas kue-kue untuk dibawa, lalu berpakaian cantik. Dyah dari tadi natelponma, soalnya lamami natungguka di Tello untuk bersama-sama berangkat ke Losari tempat berkumpul sebelum menyeberang ke Pulau Lae-Lae.


***
Pacarita Barongkona Daeng Sugi (Dyah Restyani)


Barusan dapatka sms dari Dg.Sassang dan Kak Fitri tentang rencana reuni di Lae-Lae. Nabilang Kak Fitri dia mau bawa cucuru’ bayao dan bannang-bannang. Saya mau bawa apa di’? Hmm… Kucekmi dulu di dapur. Ada pisang, ada santan. Bikin barongkomi saja. Adaji nanti Kak Irsyam bungkus bawa pulangkalo tidak habiski dimakan barongko buatanku…haaahahah. Ini makanan yang paling kusuka karena teksturnya lembut, apalagi kalau dimakan dalam keadaan setengah beku, wuiihh…mantap!


“Kucobami dulu deh bikin barongko, hitung-hitung belajar bikin kue..hehehe. Begini cara bikinnya, cika’. Kublender beberapa pisang kapok matang dicampur dengan telur, santan, gula pasir, dan garam sedikit saja. Setelah itu kutuang ke pinggan tahan panas. Sebenarnya resep aslinya pakai daun pisang, tapi memang dasar tidak mauka repot…hahaha.  Terus dikukusmi sekitar 30 menit. Kalo dinginmibarongkonya, bisami didinginkan dalam kulkas biar lebih enak. Maupi dimakan baru dipotong-potong.”


“Konon bede’ barongko ini merupakan makanan penutup untuk kalangan kerajaan dan hanya dihadirkan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan. Tapi sekarang, karena perkembangan zaman, siapapun bisaji menikmati barongko dan tidak hanya ditemui di acara-acara khusus saja. Ada bagusnya, kan? Ini (mantan) makanan kerajaan loh!”


Pacarita Tumpina Daeng Puji (Rianty Indah Ayuri)


Sebuah sms baru terbaca dilayar telepon genggamku. Undangan reuni SMA dari Dg.Sassang. Ada kenangan yang terflashback saat membaca nama-nama yang akan menghadiri reuni tersebut. Irsyam. Sepuluh tahun waktu yang tak singkat untuk melupakan kenangan tentangnya, tentang cintaku yang tak pernah diketahuinya.


Teringat ketika pertamakali berteman dengannya di Facebook. Masih seperti dulu, mata yang selalu membuatku ingin berenang didalamnya, senyumnya yang tak mampu memberiku lelap sekejap pun. Aku gembira, namun hanya sekejap. Ada sesak dalam dada saat kutahu Irsyam telah bertunangan denganUleng, teman SMA kami juga. Kembali kubaca sms itu. Acaranya di Lae-lae. Senangnya membayangkan pertemuan nanti walau kuharus datang sendiri. Terbayang kedua pasangan serasi itu. Ah, sudahlah.


Rasanya tidak lengkap kalo datangka tanpa oleh-oleh. Kuputuskan membuat kue tumpi. Kutauji cara bikinnya. Tepung beras dan irisan gula merah dikocok dalam baskom kecil, lalu ditambahkan air secukupnya. Punna selesaimi, dimasukkan ke dalam loyang persegi panjang ukuran 7×5 cm. Maukajuga bikin yang bentuk love khusus untuk Irsyam. Kalo agak kerasmi adonannya bisami digoreng.


Kuingatki waktu Anto’ku bercerita kalo tumpi itu harus selalu ada pada acara pengantin, naik rumah (panggung), atau pattumateang. Kalau tumpi penganten, anak perempuan harus mencicipi supaya berkahnya ada dan segera menikah. Kalo tumpi untuk naik rumah, supaya penghuni rumahnya selalu diberi rezki, sedangkan tumpi pattumateang tidak pahamka.


Nah, tumpiku kukasi bentuk love supaya Irsyam natauki isi hatiku, meski dia rencana menikah dengan Uleng. Intinya selama janur kuning belum berdiri dan berkibar, siapapun masih berhak mengikhtiarkan jodohnya, selama tenajana terlibat Daeng Dukun.


Pacarita Dangkena Daeng Tojeng (Irsyam Syam)


Subuh. Lereng Gunung Nona masih berkabut. Udaranya dingin sekali kurasa padahal pake jaketma’. Hari ini lebih subuhka’ cari rumput, beri makan sapi-sapiku dan memerah susunya, karena saya harus ke Makassar pagi-pagi.


Kemarin Yayang Uleng menelpong beritahu kalau ada acara reuni dengan temang SMA di Lae-Lae, jadi saya harus tiba di Makassar sebelum acara. Mmmh, ketemu temang lama artinya harus bawa oleh-oleh. Apami itu bagusna kubawa? Masa’ bawa susu sapi segar? Kubikin Dangkemi saja. Lagian bahannya ada semuaji. Tinggal kekuatan mami’ menahan dingin.


Bikin Dangke gampangji. Susu sapi direbus kemudian dicampur dengan sedikit garam dan getah pepaya muda. Getah pepayanya tidak boleh banyak, nanti pahitki. Getah pepaya ini dipake supaya menggumpalki susu sapi yang direbus tadi. Kalau menggumpalmi susunya, tinggal dicetak dalam tempurung kelapa yang sudah dibelah dua. Setelah beku, Dangke bisami dimakang langsung atau digoreng terlebih dahulu. Karena mauka bawaki ke Makassar, kugorengmi saja supaya tahan lama.


Dulu Dangke dibikin dari susu kerbau. Tapi sekarang sedikit mami kerbau di Enrekang, jadi digantimidengan susu sapi. “Sapi Holland bede’ namanya, ka dari Belanda”. Nenekku cerita bahwa dulu waktu orang Belanda datang dan dikasih olahan susu kerbau ini, mereka bilang Dank Je yang artinya terima kasih. Tapi penduduk setempat nakira dangke yang dibilang orang Belandaya. Sejak itu kue ini disebut dangke. Dangke enak dimakan dengan songkolo’. Di Makassarpi kubeli songkolo’na.


Wih, jam enammi. Mauma berangkat ke Makassar. Naik motorma saja deh, supaya cepat sampai. Maukajuga jemputki Yayang Uleng untuk bersama-sama ke Losari.


Pacarita Putu Cangkiri’na Dg Cenning (Uleng Tepu)


Kemarin ada teleponnya Dg. Sassang, nakasih tauka mau ada reuni. Deh, senangnya kurasa, rindumasama semuanya. Rindu cerita dan makkala bersama sampai sakit perut. Apalagi Nuri pulangmi juga dari luar negeri, pasti banyak ceritana yang bikin ramai nanti. Ketemuan dulu di Losari lalu bersama ke Lae-Lae bakar-bakar ikan. Awwi ndak sabarma ketemu semuanya.


Aih, daripada menghayalka sambil dumba’-dumba’, lebih baik saya ke dapur saja coba-coba belajar bikinputu cangkiri untuk dibawa ke Lae-Lae nanti. Lama sekalima’ tidak makan ini kue. Teman-teman yang lain juga mungkin jarangmi makan ini kue, apalagi Nuri, mana ada putu cangkiri di luar negeri. Pasti bule di sana tidak pernah lihat kue seperti ini yang bentuknya mirip bagian bawah cangkir.


Untung tadi pagi waktu ke pasar tidak kulupaji beli bahannya, ada tepung beras, gula merah, dan kelapa muda parut. Daun pandan untuk alasnya ada di halaman rumah, tinggal ambil trus digunting-gunting kecil. Sekarang tinggal dibikin. Gula merah diserut lalu dibasahi kemudian dicampur dengan tepung beras dengan cara diremas. Kalau tercampur ratami atau berwarna agak coklatmi tinggal dicetak pakejolo-jolo. Tengahnya diisi parutan kelapa muda. Lalu putu cangkiri siap dikukus.


Nah, sekarang jadimi putu cangkirku. Rapimi juga susunannya. Cantiknya mami’ warnanya, kaya’ anak dara’ ugi yang hitam manis. Nabilang dulu Etta Adil, kelapa parut di dalam putu cangkir bisa diibaratkan kesucian yang terjaga. Betul juga itu, namanya anak dara’ harus bisa menjaga kesucian dirinya. Eh, siap-siapma deh, maumi datang Yayang Irsyamku menjemput lalu bersama-sama ke Losari.


Pacarita Umba-umbana Inge (Daeng Sassang) dan Pa’piongna Pong Chris


“Hmmm…lengkapmi semua bahang-bahangku untuk buat umba-umba sagang pa’piong. Untungnanatalipongka’ Pong Chris kemarin sebelum belanjaka bahang-bahang ke Pasar Maricaya. Dia minta tolong dibuatkan pa’piong untuk acara reuni nanti karena tidak ada waktunya untuk masak. Pengusaha muda bede’, sibukki berbisnis. Kukandatto’ mamiki’ kalau tidak nabayarka kembali.


“Untuk umba-umba bahannya dari tepung beras, gula merah, daun pandan, dan kelapa parut. Untuk pa’piong yang makanan khas dari Toraja ini bahannya adalah daun mayana yang kalau orang Toraja bilang bulunangko. Lalu juga daging, lombok atau cabe, bawang putih, garam, daun pisang. Kupake daging ayam karena temangku banyak muslim. Tapi kalau orang Toraja asli buat pa’piong pake daging babi.


“Nah, sekaran waktunya membuat pa’piong. Katanya Pong Chris, pa’piong ini sebenarnya bukang nama makanan tetapi cara memasak, yaitu cara memasak dengan menggunakan bambu. Kalau cara memasak seperti bakar sate atau ikan, itu dinamakan pa’rarang atau pa’tunu dalam Bahasa Toraja. Sekarang banyakmi juga yang buat pa’piong pake daging lain seperti ayam, ikan, dan lain-lain, sehingga disebut pa’piong ayam, ikan, atau yang lainnya. Kalau pa’piong ji saja itu artinya dagingnya pake daging babi.”


“Cara buat dan masaknya sederhanaji. Haluskang garam dan bawang putih, lombo‘na tidakji dihaluskan. Lalu campur semua bahan jadi satu termasuk ayam dan bulunangkonya. Lalu diisi ke dalam bambu muda sepanjang 70-100 cm, ujungnya ditutup daun pisang. Bambu itu dibakar dengan posisi berdiri dan miring diantara kayu yang melintang sebagai penyangga.”


“Pa’piong ini selalu ada dalam upacara-upacara adat orang Toraja seperti acara kematian. Namun sekarang makanan ini sudah sering dijumpai dalam berbagai macam pesta masyarakat Toraja. Dikarenakan kebiasaan orang Toraja yang datang ke pesta adat dengan membawa bahan makanan tersendiri untuk kemudiaan dimasak pada tempat acara, maka pa’piong ini mungkin bisa diartikan sebagai lambang kebersamaan. Persekutuan masyarakat Toraja memang sangat kuat.”


“Sambil menunggu pa’piong selesai dibakar, mauka buat umba-umba. Cara buatnya samaji seperti kelepon. Ini panganan khasnya Orang Makassar yang selalu dipake kalau masuk ato dirikan rumah baru, juga pada acara menyangkut pernikahan. Kata tetanggaku, Daeng Gassing, umba ato ammumbadalam Bahasa Makassar artina muncul ke permukaan, sepertimi kalau kue ini dimasak. Awalnya tenggelam, lalu kalau masakmi dia muncul ke permukaan. Itu katanya simbol harapan agar hal-hal yang baik ato positif yang tersembunyi di tempat baru akan muncul ke permukaan. Begitu katanya mitosnya menurut Daeng Gassing. Cakep memang tong itu tetanggaku…hiihihhi.”


“Nah, selesaimi umba-umba sama pa’piongku. Mauka’ dulu siap-siap berangka’ ke Pantai Losari.Natungguma‘ tukang becakku kodongTaku’ka’ nagigi‘ kalau lama dudu natayangka!”


* * *


Siapa yang tak kenal Losari. Dahulu, pantai ini dikenal dengan pusat makanan laut dan ikan bakarnya di malam hari. Di sepanjang pantai Kota Makassar ini di malam hari berjejer warung terpanjang di dunia, kurang lebih satu kilometer dengan banyak makanan yang menggoda selera. Losari bukan hanya sekedar pantai. Disini begitu banyak cerita cinta tercipta, janji yang terukir dan lukisan alam yang memesona. Pada sore hari, semua orang bisa menikmati sunset yang mengundang temaram malam di ujung laut tak bertepi, diantara kilauan lampu pulau yang bertebaran di pesisir Makassar.


Akhirnya, pada Minggu pagi yang cerah, pantai inipun menyambut kehebohan Daeng Sassang bersama Nuri, Rianty, Uleng, Dyah, dan Fitri. Mereka saling tertawa dan berpelukan melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Sementara Etta Adil juga sibuk menyambut adiknya, Indra, Irsyam, Chris, dan Affandi. Mereka saling menanyakan kabar sambil saling membenahi barang bawaan masing-masing. Tak ada yang berubah pada diri mereka, keceriaan dan keramahan yang tetap terasa sama ketika mereka harus berpisah setamat SMA, kecuali mereka kini tampak lebih dewasa.


Dari bibir pantai Losari mereka beranjak menaiki dua perahu yang telah disewa Etta Adil menuju Lae-lae, sebuah pulau kenangan, pulau cinta, pulau yang banyak menyimpan cerita, cerita pacarita yang tak pernah ada habisnya. Di Pulau Lae-lae, mereka membuktikan cerita bahwa pacarita bisa mengukir kembali kenangan lama menjadi cerita baru dengan kanrejawa yang dibuat dengan penuh rasa cinta dan saling rindu, nakku dan rannu, Sinakkuki  Sirannuang ri Lae-lae.

Keterangan :
[1]  Nipakarammulami anne caritayya. Artinya, Dimulailah ini cerita.
[2]   “Bajiki kapang punna sikarannuangki ri Lae – lae. Nakukio ngasengi andikku anjo balalayya, artinya : Alangkah bagus kalau kita saling merindukan di Lae – lae, mau kupanggil semua adik – adik sekolahku dulu yang terkenal kerakusannya.
[3]  “Bajiki antu rencananu andikku, Baji tongi kapang punna nisuro ngasengi angngerang kanrejawa. Sekaligus niuji tommi apakah anjo nau’rangi ngasengji kampongna”, Artinya : Bagus itu rencanamu adikku. Lebih bagus lagi kalau kita suruh mereka membawa kue-kue tradisional sekaligus menguji mereka apakah masih ingat kampong halamannya.
[4]  Lebba ngasengmi, artinya sudah semua.
[5]  “Ehh, sabbaramaki Daeng, punna nakke eroka appare Umba –umba sagang Pa’piong”, artinya : Ehh, sabar kak, kalau saya, akan saya buat Umba – umba dan Pa’piong.
[6]  Eromi labbusu’ pulsaku kodong, ku smsmi dech, Artinya Sudah mau habis pulsaku kasihan, saya sms saja deh”.
[7]  Tonga, artinya juga.
[8]  Nabawakanga, artinya saya dibawakan.

=========
Prosa Kolaborasi Kampung SulSel (Makkala’ na Maccawa) Pada Malam Prosa Kolaborasi Kompasiana


Inge Ngotjol
Reni Purnama
Dyah Restyani
Fitri Ati
Rianty Tayu Syafna
Nuri Nura
Etta Adil
Afandi Sido
Deghost
Indra F. Soleh
Irsyam Syam
.

1 komentar:

zyukur more mengatakan...

kuenya mi saya :D :D

Posting Komentar